, ,

Sekda Kota Kendari Buka Pendidikan Kalosara Tamalaki Sultra: Tanamkan Nilai Budaya di Era Digital

oleh -78 Dilihat

Wawasan Kendari – Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Kendari, Ridwansyah Taridala, secara resmi membuka kegiatan Pendidikan Kalosara Tamalaki Sulawesi Tenggara (Sultra) di Aula Balai Latihan Kesenian Kendari, Kamis (16/10). Kegiatan ini diinisiasi oleh Lembaga Adat Tolaki (LAT) Sultra bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan, guna memperkuat nilai-nilai budaya lokal di tengah derasnya arus modernisasi dan perkembangan era digital.

Pelestarian Budaya di Tengah Tantangan Globalisasi

Dalam sambutannya, Sekda Kendari menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan momentum penting untuk menghidupkan kembali semangat Kalosara, simbol kehormatan dan kesucian dalam adat Tolaki yang sarat makna persaudaraan, kejujuran, dan tanggung jawab moral.

“Budaya Kalosara mengajarkan kita tentang harmoni, keadilan, dan penghormatan terhadap sesama. Di tengah era digital yang serba cepat ini, nilai-nilai itu jangan sampai luntur,” ujar Ridwansyah.

Ia menambahkan, pendidikan berbasis budaya seperti ini harus terus digalakkan agar generasi muda tidak kehilangan jati diri. Menurutnya, kemajuan teknologi dan modernisasi bukan alasan untuk melupakan akar budaya dan kearifan lokal yang menjadi identitas masyarakat Sulawesi Tenggara.

Pendidikan Kalosara Sebagai Wadah Pembentukan Karakter

Kegiatan Pendidikan Kalosara Tamalaki Sultra diikuti oleh ratusan peserta dari kalangan pelajar, mahasiswa, tokoh pemuda, serta perwakilan komunitas adat. Dalam kegiatan ini, peserta mendapatkan materi tentang filosofi Kalosara, nilai-nilai kepemimpinan Tolaki, serta peran generasi muda dalam menjaga adat dan moralitas sosial.

Ketua Lembaga Adat Tolaki Sultra, La Ode Nursalam, menjelaskan bahwa tujuan utama pendidikan ini adalah untuk menanamkan nilai-nilai luhur Kalosara dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus membangun generasi muda yang memiliki karakter tangguh dan beretika.

“Kita ingin agar anak muda tidak hanya cerdas secara akademik, tapi juga memiliki kepribadian yang kuat, berbudaya, dan menghargai adat. Itulah makna sejati pendidikan Kalosara,” ucap Nursalam.

Ia juga mengapresiasi dukungan penuh dari Pemkot Kendari yang selama ini aktif mendorong kegiatan pelestarian budaya di tingkat daerah.

Menyikapi Tantangan Era Digital

Dalam diskusi yang digelar di sela kegiatan, sejumlah narasumber menyoroti tantangan generasi muda di era digital yang rentan terhadap pengaruh negatif media sosial dan budaya instan.

Menurut Dr. Wa Ode Sitti Maryam, akademisi dari Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, nilai-nilai Kalosara bisa menjadi filter penting agar anak muda mampu bersikap bijak di dunia digital.

Sekda Kota Kendari
Sekda Kota Kendari

Baca juga: Pemkot Kendari Gelar FGD II Penyusunan RDTR Kawasan Strategis Kota Lama

“Kalosara mengajarkan keseimbangan dan kontrol diri. Ini sangat relevan untuk generasi digital yang harus mampu menahan diri dari ujaran kebencian, hoaks, dan perilaku konsumtif di media sosial,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa pendidikan berbasis budaya lokal dapat berjalan seiring dengan inovasi teknologi, asalkan dikemas secara kreatif dan modern, misalnya melalui media digital interaktif, film pendek, dan konten edukatif di platform sosial.

Komitmen Pemkot Kendari Dorong Pelestarian Budaya

Pemerintah Kota Kendari, kata Ridwansyah, berkomitmen untuk terus mendukung program-program kebudayaan, baik melalui kegiatan pendidikan adat, festival budaya, maupun dukungan anggaran untuk lembaga adat.

“Kami tidak ingin budaya Tolaki dan budaya lokal lainnya hanya tinggal cerita. Pemerintah hadir untuk memastikan generasi muda mencintai dan mengamalkan nilai-nilai luhur tersebut,” tegasnya.

Ia juga mendorong agar Dinas Kebudayaan dan lembaga adat menjalin kolaborasi dengan dunia pendidikan, seperti sekolah dan perguruan tinggi, agar pendidikan budaya dapat dimasukkan dalam kurikulum muatan lokal.

Antusiasme Peserta dan Harapan Ke Depan

Kegiatan Pendidikan Kalosara Tamalaki Sultra berlangsung meriah dan penuh semangat. Para peserta terlihat antusias mengikuti sesi tanya jawab dan simulasi adat Kalosara yang dipandu oleh para tokoh adat senior.

Salah satu peserta, Nurhaliza (18), siswi SMA Negeri 5 Kendari, mengaku bangga bisa mengikuti kegiatan tersebut. “Saya baru tahu kalau Kalosara bukan sekadar simbol adat, tapi juga punya makna mendalam tentang tanggung jawab dan kesucian. Ini penting untuk generasi muda seperti kami,” ujarnya.

Warisan Leluhur Sebagai Pedoman Masa Depan

Menutup acara, Sekda Ridwansyah berharap kegiatan ini dapat menjadi program berkelanjutan agar nilai-nilai Kalosara benar-benar tertanam dalam kehidupan masyarakat Kendari.

“Budaya bukan hanya masa lalu, tapi pedoman hidup untuk masa depan. Jika kita bisa menjaga dan menerapkannya, maka kita tidak akan kehilangan arah di tengah perubahan zaman,” tuturnya.

Dengan semangat Tamalaki dan nilai Kalosara yang dijaga bersama, masyarakat Sulawesi Tenggara diharapkan mampu menapaki era digital dengan tetap berakar pada nilai-nilai budaya dan moralitas luhur warisan leluhur.

Indosat

No More Posts Available.

No more pages to load.