Kendari– Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) bersama Badan Karantina Indonesia (Barantin) resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) sebagai langkah memperkuat sinergi pengawasan terhadap peredaran obat, makanan, dan produk pertanian. Penandatanganan yang berlangsung di Jakarta ini menjadi tonggak penting dalam meningkatkan efektivitas pengawasan lintas sektor demi melindungi kesehatan masyarakat sekaligus menjaga ketahanan pangan nasional.
Kolaborasi Strategis Dua Lembaga
Kepala BPOM menegaskan bahwa kerja sama ini merupakan wujud nyata komitmen pemerintah untuk menghadirkan pengawasan yang lebih terintegrasi. Menurutnya, tantangan globalisasi dan perdagangan bebas menuntut adanya pengawasan ketat, terutama di pintu masuk distribusi barang impor maupun ekspor.
“Sinergi BPOM dan Barantin sangat penting agar pengawasan lebih efisien, tidak tumpang tindih, dan benar-benar menjamin keamanan produk yang beredar di masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Barantin menyampaikan bahwa pihaknya memiliki peran strategis dalam menjaga pintu masuk negara dari produk pertanian, pangan, hingga obat-obatan. Kerja sama dengan BPOM, katanya, akan semakin memperkuat upaya pencegahan masuknya produk ilegal, berbahaya, maupun tidak sesuai standar.
Fokus pada Keamanan Pangan dan Obat
Isi MoU ini mencakup sejumlah poin strategis, antara lain pengawasan bersama di pelabuhan dan bandara, pertukaran data dan informasi, hingga pelatihan bersama bagi petugas lapangan. Dengan demikian, produk yang masuk dan keluar Indonesia dapat dipastikan memenuhi standar kesehatan, keamanan, dan mutu.
“Kami tidak ingin ada lagi produk makanan atau obat-obatan yang lolos tanpa pengawasan. Sinergi ini memastikan keamanan mulai dari hulu hingga hilir,” jelas Kepala BPOM.
Selain itu, kerja sama ini juga menekankan pengawasan terhadap produk pertanian yang rawan membawa hama penyakit. Dengan adanya penguatan pengawasan, diharapkan ketahanan pangan nasional tetap terjaga tanpa mengorbankan kesehatan masyarakat.

Baca juga: Dituding Pungli Iuran Komite, Kepala MAN 1 Kendari Hanya Tersenyum. Ini Penjelasannya
Respons Positif dari Publik
Langkah kolaboratif ini mendapat sambutan positif dari kalangan akademisi, pelaku usaha, hingga masyarakat. Para pengamat menilai kerja sama lintas lembaga sangat dibutuhkan untuk menjawab kompleksitas masalah perdagangan global saat ini.
“Produk pangan, obat, dan hasil pertanian masuk melalui jalur yang sama. Kalau pengawasannya terpisah, sering terjadi tumpang tindih atau bahkan celah. MoU ini jadi solusi,” ungkap seorang pengamat kebijakan publik dari Universitas Indonesia.
Harapan dan Tindak Lanjut
Setelah penandatanganan MoU, BPOM dan Barantin berkomitmen segera menindaklanjuti dengan pembentukan tim kerja bersama. Tim ini bertugas menyusun rencana aksi, termasuk integrasi sistem informasi pengawasan, pembagian peran yang lebih jelas, serta koordinasi lapangan yang lebih cepat.





