Dulu gue kira musik cuma soal selera. Suka dangdut, ya dengar dangdut. Suka pop, ya putar pop. Selesai urusan. Tapi sejak balik ke kampung halaman dua tahun lalu, pandangan itu berubah total. Musik ternyata bukan cuma soal telinga, tapi soal siapa yang duduk di sebelah kamu waktu lagu itu diputar.
Ceritanya begini. Malam pertama gue sampai di rumah warisan orang tua, listrik baru nyala, barang belum dibongkar. Sepi banget. Nggak ada TV, nggak ada wifi. Cuma ada radio tua di lemari dan satu speaker bekas yang masih nyala. Iseng gue putar lagu-lagu lawas yang dulu sering diputar bapak. Eh, belum lima menit, tetangga sebelah udah nongol di pagar.
"Itu lagu siapa? Kayak pernah dengar," katanya. Padahal kami belum pernah ngobrol lebih dari sepuluh menit sebelumnya.
Baca juga: Pererat Kebersamaan, Satgas TMMD 127 Kodim Kendari Gelar Sahur Bersama
Musik Jadi Pembuka Percakapan yang Nggak Pernah Gue Duga
Dari situ gue sadar satu hal: di kota kecil, musik itu fungsi sosialnya lebih besar daripada fungsi hiburannya. Di kota besar, orang dengar lagu pakai earphone, sendirian, biar nggak diganggu. Di kampung, lagu diputar keras-keras justru biar ada yang datang.
Gue mulai rutin. Tiap sore sekitar jam empat, gue putar beberapa lagu di teras sambil nyeduh kopi. Nggak lama, kursi plastik di teras nambah. Pak RT lewat, mampir. Anak-anak sekolah pulang, ikut duduk. Bahkan ibu-ibu yang biasanya cuma lewat depan rumah mulai berhenti, ikut nyanyi walau liriknya salah.
Yang menarik, pilihan lagunya nggak pernah gue rencanain. Kadang dangdut koplo, kadang lagu pop tahun 90-an, kadang lagu gereja atau sholawatan tergantung siapa yang lagi duduk. Dan justru dari situ obrolan jadi hidup. Ada yang cerita dulu dia pacaran sambil dengar lagu itu. Ada yang ingat almarhum suaminya suka nyanyi lagu tersebut. Musik jadi semacam pancingan memori kolektif.
Lagu yang sama bisa bikin dua orang yang tadinya cuma kenal nama sekarang saling pinjam gula dan cabai.
Pelajaran yang Gue Dapat soal Volume dan Waktu
Nggak semua berjalan mulus. Ada masa gue salah pilih waktu. Pernah suatu malam gue putar lagu agak keras jam sebelas malam, dan paginya ada tetangga yang menegur halus. Wajar. Di kampung, dinding rumah tipis dan jarak rumah rapat. Jadi gue belajar beberapa hal soal etika memutar musik di lingkungan kecil.
- Volume secukupnya. Cukup terdengar sampai pagar, jangan sampai tiga rumah. Kalau orang harus teriak buat ngobrol, berarti kegedean.
- Waktu itu penting. Sore sampai maghrib paling aman. Lewat jam sembilan malam, kecilkan. Ada bayi, ada orang sakit, ada yang besok subuh harus ke sawah.
- Jangan monopoli. Sesekali biarkan tetangga yang pilih lagu. Ini sepele tapi efeknya besar. Orang merasa dihargai.
- Perhatikan konteks. Kalau ada tetangga yang sedang berduka, tahan dulu lagu ramai. Ini bukan aturan tertulis, tapi rasa.
Dari empat poin itu, yang paling gue rasain dampaknya adalah poin ketiga. Waktu gue mulai gantian sama tetangga, suasana berubah. Bukan lagi "musiknya si A", tapi "musik kita". Ada rasa memiliki. Dan rasa memiliki itu yang bikin orang betah duduk lebih lama.
Yang Terjadi Setelah Beberapa Bulan
Setelah sekitar tiga bulan rutin, ada perubahan kecil yang nggak pernah gue rencanain. Anak-anak muda yang biasanya cuma main HP di rumah mulai ikut duduk. Salah satu dari mereka, anak SMA yang hobi main gitar, mulai bawa gitarnya. Sekarang tiap Jumat sore kadang jadi semacam sesi akustik dadakan di teras. Nggak rapi, nggak profesional, tapi ramai.
Yang lebih nggak terduga: ibu-ibu mulai bawa makanan. Kadang pisang goreng, kadang kue basah. Alasannya sederhana, "biar ada teman makan". Dan dari situ, masalah-masalah kecil kampung mulai dibicarakan dengan kepala dingin. Soal lampu jalan yang mati, soal sampah di selokan, soal anak yang belum dapat sekolah. Semua dimulai dari duduk bareng sambil dengar lagu.
Gue bukan orang yang percaya musik bisa menyelesaikan semua masalah. Nggak. Tapi gue jadi percaya bahwa musik bisa membuka pintu sebelum masalah itu dibicarakan. Dan di kampung, pintu yang terbuka itu mahal harganya.
Kalau Kamu di Kampung atau Kota Kecil, Coba Mulai dari Hal Kecil
Nggak perlu beli speaker mahal. Speaker bekas yang masih nyala juga cukup. Nggak perlu bikin acara resmi atau izin ke mana-mana. Cukup duduk di teras, putar satu-dua lagu, dan biarkan pintu rumah terbuka. Kalau ada yang lewat, tawari duduk. Kalau ada yang ikut nyanyi, biarkan.
Yang perlu kamu siapkan cuma dua: kesabaran dan kesediaan mendengar orang lain. Karena begitu musik diputar, obrolan pasti datang. Dan obrolan itu kadang nggak selalu enak. Ada yang curhat soal utang, ada yang ngeluh soal keluarga, ada yang cuma diam. Tugas kita bukan menyelesaikan, cukup menemani.
Gue sendiri nggak pernah menyangka hal sesederhana memutar lagu lama di teras bisa mengubah cara gue memandang kampung sendiri. Dulu gue pikir kampung itu sepi dan membosankan. Sekarang gue tahu, yang sepi bukan kampungnya, tapi cara kami berinteraksi. Musik cuma alat. Yang berubah sebenarnya cara kami membuka diri.
Jadi kalau kamu di kota kecil atau desa dan merasa lingkunganmu dingin, coba dulu hal paling murah yang ada: putar satu lagu, buka pintu, dan biarkan tetangga datang. Mungkin nggak langsung ramai. Mungkin butuh berbulan-bulan. Tapi dari pengalaman gue, satu lagu yang diputar dengan niat baik bisa jadi awal dari banyak hal yang nggak pernah kamu rencanakan.